Sepi sekali lailatul kala itu . Angkasa yang bertabirkan
sutera kegelapan diseri butiran manik berkerdipan gemilang . Sambil itu Sang
Ratu malam berdandan ayu di tabir malam bersama durjanya yang putih berseri ,
meski sesekali kejelitaan itu ditutupi arakan mega yang cemburu .
Cengkerik-cengkerik berzikir , alam bertafakur di bawah kesuraman , mengakui
kebesaran Yang Maha Esa .
Ah... sepinya Kota Darul Adwa' . Bangunan kota
usang berdiri megah bak arca yang bersusunan . Segalanya sepi...sunyi tanpa ada
satu suara pun kecuali alunan zikir sang cengkerik yang setia menghiburkan .
Namun , keheningan alam maya tereksplotasi dengan suatu dentuman bom yang amat
kuat . Bunyi tembakan yang bertalu-talu turut kedengaran lalu memecah sunyi .
Serta-merta kota yang bagaikan kota mati tadi lantas dibingiti pekikan
manusia . Di sana sini kelihatan penduduk kota yang bertempiaran
dengan wajah yang terukir kegusaran yang sukar untuk ditafsirkan dengan bahasa
. Serentak dengan itu , kedengaran deruan kereta menuju ke dalam kota yang hingar-bingar .
Kelihatan beberapa buah trak tentera , kereta kebal serta sejumlah besar
armada-armada yang lengkap bersenjata menyergah masuk tanpa diundang .
"Trutttttt!!!!!....Truttttttt!!!!....Trutttt!!!... Bang!! Bang!!!
Boommmmmmm!!!! Arggghhhhh!!!!!.........."
Atmosfera Darul Adwa' mula dilitupi jeritan bazooka , meriam , machine-gun dan
juga jeritan maut manusia yang sungguh mengerikan . Satu demi satu penduduk
Darul Adwa' rebah ke bumi .....
Pada saat adengan tembak-menembak begitu hangat , seorang ibu yang memimpin
tangan anak lelakinya dengan senyap-senyap keluar dari sebuah bangunan . Mereka
lantas berlari menyertai sekumpulan penduduk yang masih berusaha menyelamatkan
diri . Sementara peluru-peluru yang lapar sentiasa memburu nyawa manusia yang
menjadi mangsa keganasan itu .
Malang... telah
ditakdirkan petemuan dengan Izrail itu terlalu awal buat si Ibu . Tubuhnya
dimamah satu per satu butiran peluru . Si Ibu mengerang kesakitan lantas
tersungkur di atas bumi Darul Adwa' yang hanyir dengan cecairan merah nan pekat
. Si anak di sebelahnya panik melihat ibunya yang kaku di atas tanah . Ya
Allah....ibu... Dia menoleh . Askar-askar ganas semakin mendekati . Hatinya
bertambah gusar . Ah!!! Tawakal ! "Ibu , biar Fajar dukung ibu !" Si
anak bernama Fajar langsung mendukung ibunya dan berlari sekuat tenaga yang ada
, menuju ke pintu keluar kota bersama-sama
saki-baki penduduk kota
.
Para askar semakin galak mengejar mereka .
" Kejar ! Kejar !" Mayat-mayat yang bergelimpangan dipijak-pijak
tanpa rasa kemanusiaan . Dasar manusia !
" Cukup ! Jangan kejar mereka . Mereka tidak akan ke mana . Lambat-laun
mereka pasti akan berada di genggaman kita jua !" Suara lantang itu segera
menghentikan sekalian askar yang berkejaran , bagaikan sebuah fius yang
memutuskan litar . Semua askar terus berbaris , seolah-olah menunggu kedatangan
orang penting . Seorang lelaki berdurja seganas sang raja rimba berjalan angkuh
ke arah barisan armada-armada sambil diiringi beberapa orang jeneral . Dari
lagak gaya bongkak
dan lencana serta pingat yang tersusun rapi di pakaiannya menunjukkan bahawa
lelaki tersebut bukan sembarangan orang . Field Marshal .
" Bagus....Bagus.. Sekarang , kota Darul Adwa' ini menjadi hak
milik kita secara mutlak . Perfect ! Ha..Ha..Ha !" Dekahan gelak si Field
Marshal itu kemudian terhenti . "Tapi , aku tak mahu melihat kota jajahan aku dicemari
mayat-mayat bergelimpangan yang busuk dan menjijikan ini . Aku mahu kamu bakar
semua mayat-mayat yang ada . Usah peduli ! Yang tidak bernyawa potong dan bakar
, yang bernyawa bunuh saja . Ha..ha.. nampaknya malam ini pasti akan ada pesta
unggun mayat terbesar dalam dunia ?" Sorakan dan hilai ketawa memenuhi
angkasa . Askar-askar ganas melonjak-lonjak serta bersorak riang , bagaikan
sekumpulan kanak-kanak kelaparan yang disogok seguni makanan . Sambil Field
Marshal itu Cuma tersenyum meleret memerhati anak-anak buahnya . ' Fathur
Rahman ! Lihatlah kehebatanku!'
Bayu malam yang dingin bertiup perlahan membawa bersama pepasiran halus dan
debu-debu gersang . Kedinginan mula mencengkam hingga ke tulang sum-sum ,
bagaikan sejuknya cuaca di Kutub Utara . Para pelarian Darul Adwa' yang berjaya
melepasi maut dan keganasan dari senjata lapar yang memburu , melepaskan
kepenatan seketika di tengah-tengah kesuraman padang pasir sambil ditemani redup cahaya
Sang Rembulan . "Allah..Allahuakbar.." Fajar tercungap-cungap lantas
menghempaskan tubuhnya di atas padang
pasir . Namun , dia kembali bangkit dan merenung ibunya yang masih terbaring
kaku . Matanya terkatup rapat . ' Tidurkah ibu ?' Fajar menggoncang-goncang
perlahan tubuh ibunya . "Ibu..Ibu.." Tiada reaksi . Tangannya
menggenggam erat tangan si Ibu . 'Subhanallah ..sejuknya..'
Seorang pemuda mendekati Fajar . " Kenapa ibumu ?" " Ibu sakit
agaknya.. tangannya dingin sekali.." Pemuda tersebut menyentuh pipi wanita
tua yang terbaring kaku di sisi anaknya . Kemudian jarinya dihalakan pada
hidung siibu seterusnya di pergelangan tangan . Fajar hanya memerhati tanpa
banyak bicara .
" Innalillah wainnaillahi roji'un..." Fajar tersentak . Nyawanya
bagai disentap, ganas . Sukmanya berbunga berbagai bahasa , berbagai rasa .
Serta-merta kolam matanya dipenuhi air-air kesayuan . " Tidak ! Tidak !!
Ibu tidak mati . Ibu masih hidup . Ibu masih hidup !! Ibu , bukalah mata.."
Fajar mula hilang pertimbangan . Tubuh si Ibu dipeluknya erat-erat . Pemuda
tadi cuba
menenangkan Fajar . " Bertenang , Fajar ." " Ibu..jangan
tinggalkan Fajar , ibu.... Ibu !!!" Tangisan Fajar kian meruntun hati
setiap mata yang memerhati . Sungguh , tiada manusia yang mahu kehilangan insan
yang disayanginya .
" Fajar , sudahlah... Usah diratapi pemergian ibumu . Ianya hanya akan
menambah seksa kepada ibu . Apa Fajar mahu melihat ibu terseksa ?" Fajar
lantas membisu . Esakannya masih kedengaran . "Fajar , abang Mujahid akan
menguruskan jenazah ibu . Fajar bersabar dan beristirghfarlah
sebanyak-banyaknya . Allah lebih sayang ibu Fajar lebih daripada Fajar
sayangkan ibu . Sudahlah.. keringkan air mata itu.. Abang berjanji akan menjaga
Fajar...." Pemuda bernama Mujahid itu merangkul kemas bahu Fajar . Fajar
mengangkat mukanya . Perlahan-lahan dia melepaskan tubuh ibu . Wajah Mujahid
ditatap dengan renungan anak mata yang dalam , mencari secebis keikhlasan di
sebalik kata-kata . Senyuman meniti di wajah tulus Mujahid , namun tidak
dibalas sebaliknya Fajar menundukkan muka sambil mengesat sisa-sisa air mata .
' Ya Allah... Kau tabahkanlah hatiku..'
" Yahooo... Mari kita bersuka-ria ! Kita raikan kemenangan Baghiah !"
" Hei , bawakan arak 2 tong besar itu ke mari !" " Cepat potong
mayat-mayat yang ada ! Kita buat malam unggun !" Angkasa Darul Adwa' kini
dipenuhi asap-asap berbau hanyir daging manusia . Askar-askat ganas tersebut
riang berpesta , meraikan kemenangan mereka menakhluk bumi Darul Adwa' . Pesta
maksiat itu dimeriahkan lagi dengan arak , dan sebagainya yang melalaikan
manusia akan batas-batas
kemanusiaan . Mereka umpama syaitan bertopengkan manusia yang berhati seganas
binatang buas . Begitulah sikap manusia yang dalam kealpaan seperti mana yang
telah diperingatkan oleh Allah SWT :
"Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka
itu , atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam
Kitab-Kitab yang dahulu ?"
( Surah al-Qamar ayat 43 )
Namun masih ada seorang daripada insan-insan syaitan itu yang terlihat membatu
, membisu tanpa kalimah . Dahinya berkerutan , kegusaran memikirkan sesuatu .
"Tuan , kita berjaya akhirnya ! Kita berjaya meluaskan emapayar dengan
menakluk Darul Adwa' . Kita kaya .. Ha..haa..ha.. Kaya !" " Belum
pasti lagi ," pintas Field Marshal yang sejak tadi membatu . Para jeneral pengampu saling berpandangan, tidak mengerti
apakah maksud di sebalik kata-kata . "Kita perlu mencari mereka semua
sebelum mereka mendapatkan bantuan daripada Fathur Rahman . Kalau mereka
berjaya berbuat demikian , bermakna bahana menimpa kita !"
"Jadi….. bagaimana sekarang ? Bila kita hendak beroperasi , mencari mereka
kembali ?" Satu senyuman yang angkuh serta menjelikkan terpahat di bibir
lelaki bengis itu . " Kita akan cari mereka…. Esok !"
"Allahuakbar...Allahuakbar..." Gemersik suara panggilan Ilahi bergema
di segenap padang tandus memecah keheningan , tanda bermulanya tugasan para
khalifah bumi . Burung-burung kecil yang bermustautin di celah-celah kaktus
berkicauan riang , mendoakan kesejahteraan seluruh alam . Sekumpulan manusia di
suatu sudut terlihat sedang khusyuk menunaikan amanah Allah . Kekhusyukkan itu
sedikit pun tidak terganggu meski diusik angin padang pasir serta pasir-pasir
yang berterbangan . Subhanallah....
"Assalamualaikum warahmatullah..." Ucap Mujahid perlahan . Para
jemaah makmum di belakangnya ikut mengucap salam . Mereka kemudian sama-sama
menadah tangan seraya mendongakkan kepala , penuh mengharap pada Yang Esa .
"Ya Allah , ya Tuhan kami , Engkau kurniakanlah kepada kami keselamatan .
Engkau lindungilah kami daripada puak-puak ganas yang mengancam nyawa kami .
Engkau lindungilah kami.. dan kasihanilah kami . Sesungguhnya Engkau Maha
Pengasih lagi Maha Kuasa , amin ya rabbal a'lamin ...." Mereka kemudian
bersalaman mesra , seperti adat Islam junjungan manusia .
Mata Mujahid meliar mencari kelibat Fajar . Hatinya mula mengasihani anak yatim
piatu yang malang itu . Anak yatim piatu sememangnya perlu dimuliakan , seperti
firman Allah SWT :
"Dan berikanlah anak-anak yatim akan harta dan janganlah kamu tukar
gantikan yang baik dengan yang buruk , dan janganlah kamu makan harta mereka
dengan menghimpunkannya dengan harta kamu kerana sesungguhnya yang demikian
itulah merupakan dosa-dosa besar ."
( Surah An-Nisaa ayat 2 )
Ah , itu dia ! Mujahid menghampiri Fajar yang sedang khusyuk bertafakur di
hadapan pusara gersang , yang menjadi pemisah kasih antara dua insan . Hatinya
mula terpalit sayu . Sungguh ku tidak mengerti akan hidup ini yang penuh dengan
adengan duka..
Fajar tetap tidak berganjak . Sanubarinya kian ditenggelami air-air dari
samudera duka lantas memaksa kolam matanya bergenangan . Sayu kian
bermaharajarela tatkala hati kecil itu sentiasa membisikkan kata-kata rindu pada
si Ibu . Musibah apakah ini ??? ' Aku masih terlalu lemah untuk menerima
kenyataan maha perit ini ya Allah...' Fajar kemudian melepaskan keluhan yang
sesekali diuntai titisan jernih di pipi . ' Hidup harus aku teruskan . Kematian
ibu.. harus ada yang membelanya . Dan itulah aku... Akulah yang akan membelamu
, Ibu . Aku !' Fajar lantas berpaling , menuju kepada Mujahid yang sejak tadi
sabar meneliti bait-bait kedukaan yang terpancar di wajah seorang remaja muda .
Pahit berbaur sengsara mula menusuk-nusuk sanubari tika pusara itu semakin
jauh... jauh dan jauh . Fajar melepaskan pandangan terakhirnya , terus ke arah
pusara Ibu . Itulah kunjungan pertama , dan terakhir , terakhir buat
selama-lamanya . ' Ibu.... Aku sayang padamu..'
Mentari semakin meninggi , menegak di atas kepala . Bahangnya yang sehangat
bara membakari pasir-pasir yang sedia gersang dan tandus itu . Para pelarian
Darul Adwa’ tercungap-cungap kepenatan . Langkah kian lemah dek diseksa bara
kepanasan sang Mentari . Mujahid mendongak , memerhati lampu alam itu sambil
mengesat peluh di dahi . ' Kita harus segera keluar dari sempadan Darul Adwa'
ini dan mencari bantuan . Ya Allah.. lindungilah kami.' Fajar di sisi Mujahid
mengeluh kepanasan . Durjanya semerah bunga raya yang kembang mekar . Pakaian
serta tubuhnya basah dihujani lautan peluh yang tidak mampu dibendung .
"Rasanya tentu kita semua sudah kepenatan . Molek benar kiranya kita
berehat sebentar dan solat Dzohor di sini ." Cadangan Mujahid sekadar
disambut anggukan bisu lantaran badan yang sudah penat dan sereblum mula
memikirkan air , makanan enak dan tilam empuk untuk merehatkan badan yang penat
itu . Mereka masing-masing duduk beralaskan pasir yang panas , melepaskan
kepenatan . Fajar mengesat peluh di dahi dengan lengannya . Mujahid di sebelah
menghulurkan termos air . Pantas Fajar menyambut dan segera meneguknya .
Mujahid hanya tersenyum sambil menggeleng kecil .
Sekonyong-konyong angin berderuan , kedengarannya cukup aneh . Ah , mana bisa
di hari seterik ini angin berderuan kuat sekali ? Mujahid sedikit tersentak .
dahinya berkerut , memikirkan apakah yang membawa deru angin sekuat ini ? Dia
bangkit lalu mengamati suatu objek kurang jelas laksana teori logamaya hasil
biasan udara panas dengan udara sejuk. Di kejauhan kedengaran samar-samar bunyi
enjin kereta . Pandangan matanya segera ditajamkan . Mujahid terpaku dek tidak
percaya dengan pandangan matanya . Masya-Allah ! Bala ! Bala !!! Tanpa
berlengah-lengah Mujahid mengarahkan teman-teman pelarian untuk segera
meninggalkan tempat persinggahan mereka . " Kenapa ? Kenapa ?"
Masing-masing tercengang . "Baghiah !!" "Apa ? Baghiah ???"
Mereka kaget seketika . Aduhai.. lepaskanlah kami dari kesengsaraan ini ...
Deruan trak tentera serta sorakan ngeri soldadu Baghiah mula menggamit atmosfera.
Tanpa mempedulikan kepenatan , para pelarian Darul Adwa' meredah kepanasan ,
menyelamatkan diri . Senjata-senjata lapar mula memuntahkan peluru keganasan
yang dahagakan darah manusia .
Mujahid memimpin tangan Fajar . Fikirannya kala itu hanyalah berfikir betapa
cepatnya saat pengembalian kepada Allah . 'Tidak mengapa... Allah pasti akan
membayar segala kezaliman mereka yang berlaku zalim' getus hati Mujahid .
Teriakan demi teriakan disahut deru machine gun yang menggerunkan . Fajar
digamit ketakutan . Tangan Mujahid digenggamnya erat-erat . ' Ya Allah ,
mengapa harus kami dijadikan buruan musuhmu yang kejam ini ? Lepaskanlah kami
ya Allah...'
"Aduh !! Argh... !!!" Fajar menoleh . Seorang tua jatuh terjelepuk
dengan kaki yang penuh darah . Terdapat kesan tembakan yang masih segar di
kakinya . Tanpa mempedulikan keadaan yang cukup getir itu , Fajar melepaskan
genggaman Mujahid . Dia pantas berlari mendapatkan lelaki tua yang terbaring
kesakitan .
"Pak cik , pakcik tak apa-apa , kah ?" Lelaki tua itu jua seperti ibu
. Tidak menjawabnya . Namun dahinya yang berkerut-kerut menahan perih itu sudah
cukup memberikan jawapan yang Fajar kehendaki . Melihatkan saiz lelaki tua itu
lebih besar daripadanya , Fajar mula teragak-agak . Benaknya bercelaru . "Fajar
!!" Mujahid menghampiri Fajar . " Abang Mujahid , tolonglah
selamatkan pakcik ini . Tolonglah !!" Mujahid membisu . Kepalanya diangkat
dan matanya merenung di kejauhan . Ah ! Tentera Baghiah tentu akan muncul
sekejap masa lagi . Matanya kembali merenung Fajar . Matanya bersinar , penuh
mengharap . Hati Mujahid kembali terusik dek bayangan ketulusan yang dipamerkan
. Lelaki tua tersebut lantas dipikulnya dan mereka berlarian menyelamatkan sisa
nyawa yang masih berbaki dengan izin Allah .
" Aduh.. sakit..!" Lelaki tua itu mengerang kesakitan sambil memegang
keras kakinya yang basah berdarah . Fajar terpegun melihat butir peluru di
penyepit yang dipegang Mujahid . 'Binatang' inilah yang juga membunuh ibuku .
Mujahid kemudiannya membalut luka itu dengan secarik kain . " Terima kasih
, nak , kerana telah menyelamatkan pakcik.." Mujahid tersenyum . “ Pakcik
harus berterima kasih pada Fajar . Dialah yang sebenarnya menyelamatkan pakcik
." Fajar tersipu-sipu . "Ah , perkara kecil saja .." "Siapa
nama pakcik? Saya tidak pernah ketemu pakcik di Bandar Darul Adwa’ ini ,"
ujar Mujahid sambil menghulurkan air kepada Fajar dan lelaki tua itu .
"Nama pakcik , Ahmad . Pakcik memang bukan berasal dari Darul Adwa' .
Sebenarnya pakcik ke sana untuk berniaga . Tahu-tahu subuh tadi Darul Adwa'
diserang pengganas . Lagipula siapa mereka sebenarnya ?" Suasana sepi
seketika . Fajar dan Pakcik Ahmad menanti jawapan dari Mujahid . " Mereka
sebenarnya adalah konco-konco menteri luar kerajaan Darul Shukur , Baghiah .
Sultan Zabil telah menghukum mereka keluar dari kerajaan Darul Shukur kerana
telah berbuat khianat terhadap rakyat terutama Darul Adwa' . Darul Adwa' adalah
sebuah kerajaan kecil taklukan Sultan Zabil yang kaya dan merupakan sumber
ekonomi utama Darul Shukur . Tetapi dalam tempoh seminggu ini , Darul Adwa'
mula dikecam keganasan . Kami dipaksa menyerahkan hasil-hasil tani dan dagangan
kepada Baghiah dan kami juga diugut agar tidak melaporkannya kepada Darul
Shukur , khususnya Unit Tentera Fathur Rahman . Namun , kami berpegang pada
prinsip untuk tidak tunduk pada mana-mana kezaliman . Kami kemudiannya diugut
dengan ugutan bahawa kami akan diperangi dan akhirnya.. terjadilah seperti
sekarang ini ."
Fajar dan Pakcik Ahmad terkebil-kebil tanpa suara . 'Barulah aku faham mengapa
aku dan Ibu dipisahkan . Dasar manusia terkutuk !' "Tapi kita boleh
terus-terusan melarikan diri, bukan ? Kita harus perangi mereka !" Mujahid
memandang Pakcik Ahmad . " Benar.. tapi , kita tidak punya tenaga yang
dapat melemahkan mereka . Malah , kita tidak punya sebarang senjata ."
Pakcik Ahmad kemudian tersenyum . " Usah dirisaukan tentang senjata
." Fajar dan Mujahid saling berpandangan . Bercandakah pakcik tua ini ?
Pakcik Ahmad kemudian bangkit membawa sebuah bungkusan sederhana besar yang
memang sejak mula-mula tadi tidak pernah ditinggalkannya . Bungkusan itu dibuka
. Mujahid dan Fajar terpaku . "Subhanallah.." Tidak disangka-sangka
lelaki tua di hadapannya itu pemilik senjata . "Pakcik sebenarnya
berdagang pelbagai jenis peralatan perang . Salah satunya adalah pedang .
Pedang ini meskipun ringan namun , kualitinya sangat terjamin ." Pakcik
Ahmad tersenyum lalu menghulurkan sebilah pedang kecil berwarna putih dan hijau
kepada Fajar . " Ini asalnya kepunyaan seorang pendekar cilik di Parsi
bernama Qamarul Hakiki . Pedang inilah yang dia gunakan untuk menentang
kezaliman yang melanda tanah tumpah darahnya ." Fajar menyambut pedang itu
dengan seribu tanda tanya . ' Apa yang akan aku lakukan dengan pedang ini ? Aku
tidak mahu membunuh .. tidak !'
Mujahid kemudian bangkit lalu bertayammum di satu sudut . Fajar dan Pakcik
Ahmad turut bangun untuk menyempurnakan tayammum . Setelah para jemaah bersedia
dengan beralaskan sebuah tikar usang dengan keluasan terhad , Mujahid kemudian
memulakan azan Isyak . Bergema seluruh alam dengan alunan merdu kalimah pujian
ke atas Allah itu .
" Tuan-tuan.. Allah SWT telah berfirman ,
" Wahai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan cara jalan
yang boleh menyampaikan kepada-Nya ( menjunjung perintah dan meninggalkan
larangan Allah Ta’ala ) , dan berjuanglah pada jalan Allah supaya kamu beroleh
kejayaan ."
Sesungguhnya kita ini adalah Muslim , dan menjadi kewajipan untuk kita bangun
menentang kezaliman sekiranya nyawa serta agama kita terancam . Kita tidak boleh
selamanya berdiam diri dengan lari begini . Kita mesti berhadapan dengan mereka
. Biarpun kita perangi mereka dengan tiada kecanggihan senjata , tetapi
percayalah mereka yang berjuang Lillahi Ta'ala , syahidlah ganjarannya .
Ingatlah , ketika Rasulullah saw dikelilingi oleh sekelompok sahabatnya pada
malam Aqabah , baginda telah bersabda ,
" Bai'atlah (berjanjilah) anda semua denganku untuk tidak mempersekutukan
Allah dengan sesuatu apa pun , tidak mencuri , tidak berzina , tidak membunuh
anak-anakmu, tidak membuat fitnah antara sesama kamu dan tidak derhaka terhadap
perintah kebaikan . Barangsiapa menepati perjanjian itu , nescaya ia diberi
pahala oleh Allah dan siapa melanggar salah satu daripadanya , maka dia akan
dihukum di dunia ini . Hukumnya itu menjadi Kaffarah ( denda ) baginya . dan
barangsiapa melanggar salah satu daripadanya , kemudian ditutup oleh Allah (
tidak diketahui orang , sehingga ia bebas dari hukuman dunia ) , maka
perkaranyta terserah kepada Allah . Kalau Allah suka mengampuni ,
diampuniNyalah , dan kalau Allah hendak menyiksa , disiksaNyalah ."
Walaupun perjuangan kita tidak disertai ahli-ahli perang yang ramai dan mahir ,
namun usahlah kita gentar kerana insya-Allah , ma’unah Allah akan sentiasa
bersama-sama mereka yang bersatu menentang kezaliman kerana Allah . Oleh itu ,
saudaraku , kembalilah kita bangkit , bersatu dan tanamkan semangat untuk
berjuang berhabis-habisan memerangi puak yang zalim ini . Meski kelak kita
syahid , namun kedamaian akan menjadi tinggalan buat anak-anak kita yang lain ,
kerana amannya mereka setelah kezaliman kita tumpaskan ." Mujahid
berkobar-kobar di hadapan teman-teman pelarian Darul Adwa' . Sesekali ucapannya
diselangi laungan takbir penuh semangat daripada mereka . " Benar , kita
mesti perangi Baghiah ! Kita tidak boleh lagi lari menyembunyikan diri kerana
resmi ini hanyalah menghantar perspektif pengecut kepada manusia tanpa
tatasusila seperti tentera Baghiah itu !" " Benar ! Benar !"
Pakcik Ahmad dan Mujahid tersenyum puas . Kali ini biarlah mereka pasrah kepada
Allah SWT . Biarlah nyawa mereka dijadikan galang ganti asalkan Baghiah tidak
lagi muncul di muka bumi ini . Mujahid menoleh ke arah Fajar . Sayu hatinya
melihat Fajar nyenyak tidur di ribaannya . Hati kecilnya membisikkan rasa
perikemanusiaan , memikirkan diri Fajar yang bakal menghunus pedang kecilnya ,
menumpaskan kezaliman dalam usia yang begitu muda .
Subuh melabuhkan tirai , menggantikan tabir malam . Nun di ufuk timur sinar
suria merangkak perlahan , menampakkan kegemilangannya dengan status Raja Pagi
. Meski begitu sang Ratu Malam pula masih tidak leka dengan senyuman ayu di
dada arakan mega . Setianya mengabdikan diri kepada Pencipta sehingga sanggup
dipanah cahaya megah mentari . Begitulah apabila Allah menciptakan sesuatu untuk
menjadi teladan kepada manusia . Manusia dengan keimanan yang utuh , pasti akan
mengabdikan diri sepenuhnya pada Allah ,seperti jua rembulan . Mujahid mengeluh
perlahan . Projektor memorinya mula menayangkan semula kalimah demi kalimah
yang pernah disampaikan oleh guru agamanya . Manusia beriman umpama rembulan
purnama , indah , berseri dan menerangi kegelapan malam . Subhanallah .
"Abang Mujahid…." Mujahid tersentak . Serta merta dunia monolog itu
terhenti bak teori fius yang memutuskan litar . " Ya, ada apa , Fajar
?" "Abang , siapa dia Mus'ab Ibnu Umair ?"
Mujahid tersenyum . " Kenapa ?" " Sewaktu di sekolah dulu ,
Ustaz Amin pernah beritahu , jadilah sezuhud dan segagah Mus'ab . Dia seorang
yang gagah dan zuhud , kah ?"
"Benar , Fajar . Mus'ab Ibnu Umair asalnya daripada keluarga bangsawan .
Dia seorang yang sangat kaya dan tampan ," terang Mujahid . " Kaya
dan tampan seperti Sultan Zabil ?" Mujahid tersenyum seraya mengangguk
perlahan . " Mus'ab yang tampan ini sentiasa digilai wanita tidak mengira usia
. Macam Nabi Yusuf . Lama-kelamaan Mus'ab terasa jiwanya kekosongan kerana
banyak menghabiskan masa , bukan dengan sesuatu yang berfaedah . Kemudian , dia
mendapat tahu bahawa ada ajaran agama yang dapat menenangkan jiwa , lantas dia
pergi mencarinya dan akhirnya dia masuk Islam . Apabila ibu Mus'ab tahu yang
dia meninggalkan agama nenek moyangnya , ibunya berasa sangat marah dan
menghukum Mus'ab . Mus'ab tidak diberi makan bahkan dipenjarakan . Tapi ,
Mus'ab masih mampu tersenyum dan tabah . Ketika perang Uhud , Mus'ab menjadi
salah seorang pembawa panji-panji . Tatkala keadaan para Muslimin yang kalut
ekoran diserang mendadak oleh puak Quraisy akibat tidak mendengar arahan
Rasulullah saw , Mus'ab masih tidak berganjak daripada tempatnya . Dia bagai dipaku
ke bumi . Tiba-tiba datang beberapa orang tentera Quraisy menghunus pedang dan
terputuslah tangan kanan Mus'ab .." " Masya-Allah ! Mus'ab tidak
larikah , Abang ?" Fajar menekup muka dengan tangan , ngeri . Mujahid
sekadar tersenyum sambil merangkul bahu Fajar . " Seorang pejuang Islam
yang sejati tidak akan lari daripada medan perang , meski membahayakan nyawanya
sendiri . Mus'ab tidak berganjak dan panji yang hampir rebah itu disambut pula
dengan tangan kirinya . Mus'ab berkata dengan lantang ' Muhammad adalah Rasul
dan siapa yang menentang Rasul , aku akan tentangi mereka !' Dengan ucapan itu
, tentera Quraisy bertambah marah dan menghayun lagi pedangnya dan terputuslah
pula tangan kiri Mus’ab . Pada pandangan Fajar , tewaskah Mus’ab lantaran itu ?"
Fajar merenung Mujahid yang tersenyum manis di hadapannya . Dahinya berkerut
memikirkan jawapan . " Kalau tak ada kedua-dua belah tangan , tentulah
kalah , Abang Mujahid ! Macam mana dia nak pegang pedang , mempertahankan diri
tambahan dia bertanggungjawab sebagai pemegang panji , bukan ?"
Mujahid ketawa kecil lantas menambah bingung di hati Fajar . " Kenapa
abang ketawa?" "Abang bukan mentertawakan Fajar . Cuba Fajar ingat
semula cerita abang tadi . Ibu kepada Mus'ab pernah memenjarakan beliau kerana
kedegilannya menukar agama , kan ? Maka , pastilah Mus’ab tidak akan cepat
mengalah hanya kerana kedua belah tangannya putus dek hayunan pedang ."
" Alah.. Abang Mujahid , cepatlah sambung cerita . Fajar nak tahu apa yang
berlaku pada Mus’ab ." " Ya , Abang sambung cerita Mus'ab tadi .
Mus'ab kemudian menjerit di tengah kegawatan perang , ' Walaupun aku rebah ,
tapi Islam dan Muhammad tetap akan hidup ! ' Bertambah-tambah marahlah tentera
Quraisy seperti api marak yang ditambah minyak petrol . Lantas dilontarnya
tembok ke arah Mus’ab lalu menembusi dadanya sehingga rebah ke bumi . Tapi ,
panji Islam tetap tidak rebah , malah sepantas kilat disambut pula oleh Abu
Rumiah . Fajar tahu tak , semasa Rasulullah saw menatap mayatnya Mus'ab ,
baginda telah menitiskan air mata seraya bersabda , 'Sungguh ya , Mus'ab , di
masa yang lampau aku melihat engkau di Makkah hidup mewah dan berparas rupawan
, dan sekarang yang memilukan hatiku apabila kepalamu dibungkus dengan
kain-kain yang bertampal .' Mus’ab telah berhijrah daripada kemewahan dunia
yang penuh fana kepada keredhaan Allah SWT , sebagai seorang syuhada' . Dan ..
inilah hijrah yang mana kita akan susuli kelak , Fajar ." Fajar sekadar
membisu di sisi Mujahid . Mujahid mengusap perlahan kepala anak yatim di sisinya
, seakan mengerti perit dan persoalan di hati remaja muda itu . " Fajar
nak jadi seperti Mus'ab, Abang Mujahid . Fajar akan mempertahankan Darul Adwa'
." Mujahid tersenyum simpul . " Insya-Allah... "
Teriknya suria , membakar , menghangatkan suasana padang kegersangan air ,
ketandusan tumbuhan yang telah menjadi sejarah hitam untuk sekian lama .
Sehangat mana bahang mentari , sehangat itu jua semangat yang membakar sanubari
setiap pelarian Darul Adwa' . Mereka berjalan kembali ke pangkuan Darul Adwa'
tanpa mempedulikan risiko yang bakal menanti kerana impian syahid telah
tersimpul mati di hati . Masing-masing membawa bekal keazaman utuh yang tidak
akan runtuh meski jasad dimamah peluru . Mujahid memegang erat tangan Fajar
yang sejak tadi membisu . ' Bolehkah aku menjadi seperti Mus'ab yang berani
serta tabah itu ? Ah.. risau tidak akan menyelesaikan segalanya . Ustaz Amin
pesan , Allah mengasihi anak-anak yatim dan sentiasa membantu hambaNya yang
dalam kesusahan . Ya , pasti ! Kali ini biarlah pedang ini kuhayun walau buat
kali pertama dan...' Monolog Fajar lantas terhenti tatkala kumpulan pelarian di
hadapannya mendadak berhenti . Fajar merenung ke hadapan . Sekonyong
segerombolan besar syaitan bertopengkan manusia membawa bersama " binatang
kesayangan" yang dahagakan darah manusia . Manusia angkuh , Field Marshal
tersenyum bongkak memerhati sekumpulan manusia dengan hanya bersenjatakan
pedang di hadapan mata .
" Wah..wah.. adakah itu satu lelucon ? Pedang berlawankan machine gun dan
Raifel ? Aha.. anda semua memang pandai bergurau . Rasanya aku hendak
menobatkan nama-nama anda semua ke Anugerah Oscar untuk kategori pelakon komedi
terbaik . Ha! Ha! Ha! Pasti beroleh piala . " Gurauan bermutu serendah
mata wang paling kecil dunia itu disambut dengan hilai tawa pasukan tentera
tidak bermoral tersebut . Namun ia tidak sedikit pun mencalar riak pejuang
Darul Adwa’ yang sudah pun nekad , berserah kepada Allah SWT . Kendatipun hati
seorang remaja muda yang masih memupuk kematangan , lantas membuak magma yang
berapi , seakan menunggu untuk dilepaskan . Hilai tawa dan wajah menjijikan
gerombolan manusia tidak bermoral itu sungguh menyakitkan hati Fajar . Pedang
digenggamnya erat-erat.
" Apa yang kamu semua ketawakan ? Sampah terpampang di hadapan mata .
Cepat bersihkan ! " Arahan Field Marshal tersebut tidak dilengahkan lantas
armada-armada Baghiah mencampak raifel serta machine gun lalu menghunus pedang
di pinggang dan berlarian menghampiri kumpulan pelarian Darul Adwa' . Kumpulan
Darul Adwa' sedikit terdesak , namun semangat tetap semangat . Pedang dibalas
pedang . Mereka terus mara ke hadapan . Pedulikan jumlah tentera Baghiah yang
ramai itu , mau’nah Allah pasti akan tiba jika kita yakin kepada-Nya . Asakan
demi asakan diterima . Ramai juga tentera Baghiah yang rebah . Field Marshal di
kejauhan hanya memerhati di samping pengampu-pengampunya . " Pertunjukan
yang menarik . Tapi , sayang , setakat ini sahajalah hiburan kita . Jeneral
Vladimier , arahkan unit Raifel 2 , cepat !! " Unit Raifel 2 Jeneral Vladimier
mula bersedia dengan raifel masing-masing . Field Marshal ketawa sinis , babak
yang ditunggu-tunggunya akan bermula , detik rebahnya manusia Darul Adwa ' .
" Unit Raifel 2 . Stand by , countdown 3 , 2 , 1 . Fire !!!" Muntahan
peluru mula memenuhi angkasa . Kumpulan pelarian Darul Adwa' tersentak .
Mujahid lantas menarik lengan Fajar , hampir-hampir tubuh remaja itu ditusuki
peluru . Mereka segera berlarian ke arah sebuah batu besar yang agak
berhampiran . Namun , tiada manusia yang akan terlepas dari ajal . " Pakcik
Ahmad !!!!!!! " Fajar tersentak apabila Pakcik Ahmad rebah di hadapannya ,
dengan tubuh yang lemah dimamah peluru . Fajar mengheret sekuat hati tubuh tua
itu ke tempat perlindungan . Terlambat….. " Fajar !!!!!!!!"
" Allahu akbar !!!!!! " Sedesit kedengaran suara lantang memenuhi
angkasa . Sekumpulan besar armada-armada berjubah putih , berpanji ' Fathur
Rahman' dan beberapa kereta kebal menuju ke arah mereka dan tentera Baghiah .
Field Marshal dan Baghiah mula panik . Jahanam ! Fathur Rahman !!! Belum pun
sempat mereka hendak melarikan diri , di belakang mereka , tentera Fathur
Rahman lengkap bersenjata telahpun mengepung . Field Marshal yang tadinya
berdurja girang kini beriak seganas singa . Kebencian terpapar di wajahnya ,
namun , keadilan hanya memihak kepada yang haq . Baghiah akhirnya mengibarkan
jua bendera putih , akur akan kekalahan yang terpaksa diterima . Mereka
beramai-ramai dimasukkan ke dalam sebuah trak tentera yang dikawal rapi .
" Assalamualaikum ...." " Wa'alaikumussalam Warahmatullah.."
Mujahid membalas salaman mesra seorang pemuda berdurja setenang air di wadi
tanpa bayu . " Saya , Badarul Azmi , Jeneral untuk Unit Tentera dan
Keselamatan Fathur Rahman . Saya minta maaf kerana terlambat mengesan Baghiah ,
kami sebenanya telah lama tiba di Darul Adwa' tetapi sayangnya Baghiah terlepas
sebelum sempat kami berkas . Tapi , alhamdulillah . Tugas kali ini telah
selesai . Baghiah akan membayar harga yang mahal untuk ribuan nyawa yang telah
mereka korbankan ." Mujahid sekadar membisu . " Tuan , bagaimana
dengan mayat-mayat ini?" Jiwa Mujahid tersentap apabila dua mayat diusung
di hadapannya . Lebih menyiat-nyiat perasaan , jasad kaku seorang remaja muda
yang amat disayanginya berlumuran darah . Mujahid menyambut tubuh Fajar dari
tangan tentera Fathur Rahman . " Marilah kita kembali ke Darul Adwa'
"
Mujahid merenung ke arah langit membiru yang kehilangan mega . Tubuh Fajar di
sisinya dipeluk erat-erat sambil titis demi titis air kesyahduan gugur dari
kolam mata . Mujahid pantas mengesat wajahnya . Matanya kembali merenung alam
..... " Masih adakah lagi kedamaian untuk kami , ya Allah ?"
Tercalar pelangi di hiris gerimis
Senjapun merangkak menutup mentari
Terbias warnanya ke wajah
Lagu kedamaian tiada kedengaran
Bumi yang merekah disirami darah
Kemelut melanda.. tiada kesudahan..
Kemusnahan.. bermaharajarela
Yang lemah .. menjadi mangsa..
Anak-anak kecil menggoncangkan ibunya
Yang lemah longlai.. tak lagi bernyawa..
Jeritan suara batinnya.. tak siapa mendengarnya
Tergadaikah maruah oleh janji-janji
Terbayarkah dengan darah..?
Soalan yang tiada jawapan
Kemanusiaan telah lama hilang..
Kini yang tinggal hanya ketakutan
Musnah kasih sayang.. dan persaudaraan
Tandus akhlak dan keimanan..
Menyemai.. persengketaan..
Wallahu a'lam bissowab.........
Seeker of Serenity ,
Tamamul Qamar